TV Digital, Apanya Yang Digital?

MotifViral
Berita Kocak Unik dan Menggelitik

sumber : http://tidakmenarik.wordpress.com/2009/06/16/tv-digital-apanya-yang-digital/

Akhir-akhir ini kamu mungkin sering mendengar istilah TV Digital. Apa sih sebenarnya TV Digital itu. Tapi jangan salah pengertian dulu, di sini bukan berarti pesawat TV-nya yang Digital, melainkan lebih kepada sinyal yang dikirimkan, adalah sinyal digital atau mungkin yang lebih tepat adalah siaran digital (Digital Broadcasting).

Sistem penyiaran TV Digital adalah penggunaan apliksi teknologi digital pada sistem penyiaran TV yang dikembangkan di pertengahan tahun 90 an dan diujicobakan pada tahun 2000. Pada awal pengoperasian sistem digital ini umumnya dilakukan siaran TV secara Simulcast atau siaran bersama dengan siaran analog sebagai masa transisi. Sekaligus ujicoba sistem tersebut sampai mendapatkan hasil penerapan siaran TV Digital yang paling ekonomis sesuai dengan kebutuhan dari negara yang mengoperasikan.

TVRI dan TV swasta nasional yang tergabung dalam Konsorsium TV Digital Indonesia (KTDI) ; SCTV, TV One, AN TV, Metro TV, dan Trans Corp telah memanfaatkan sistem teknologi penyiaran dengan teknologi digital khususnya pada sistem perangkat studio untuk memproduksi program, melakukan editing, perekaman dan penyimpanan data. Pengiriman sinyal gambar, suara dan data telah menggunakan sistem transmisi digital dengan menggunakan satelit yang umumnya dimanfaatkan sebagai siaran TV-Berlangganan. Sistem transmisi digital melalui satelit ini menggunakan standar yang disebut DVB-T (Digital Video Broadcasting Satellite). Dan untuk menangkap siaran TV Digital harus menggunakan alat tambahan yang bernama Setup Box (Decoder) untuk pesawat televisi analog (yang ada sekarang ini)

Dari hasil uji coba siaran digital TV, teknologi DVB-T mampu memultipleks beberapa program sekaligus. Enam program siaran dapat dimasukkan sekaligus ke dalam satu kanal TV berlebar pita 8 MHz, dengan kualitas cukup baik. Di samping itu, penambahan varian DVB-H (handheld) mampu menyediakan tambahan sampai enam program siaran lagi, khususnya untuk penerimaan bergerak (mobile). Hal ini sangat memungkinkan bagi penambahan siaran-siaran TV baru.

Frekuensi TV Digital

Secara teknik pita spectrum frekuensi radio yang digunakan untuk televisi analog dapat digunakan untuk penyiaran televisi digital sehingga tidak perlu ada perubahan pita alokasi baik VHF maupun UHF (Ultra High Frequency). Sedangkan lebar pita frekuensi yang digunakan untuk analog dan digital berbanding 1 : 6 artinya bila pada teknologi analog memerlukan pita selebar 8 MHz untuk satu kanal transmisi, maka pada teknologi digital dengan lebar pita frekuensi yang sama dengan teknik multiplek dapat digunakan untuk memancarkan sebanyak 6 hingga 8 kanal transmisi sekaligus dengan program yang berbeda tentunya.

Selain ditunjang oleh teknologi penerima yang mampu beradaptasi dengan lingkungan yang berubah, TV digital perlu ditunjang oleh sejumlah pemancar yang membentuk jaringan berfrekuensi sama atau SFN (single frequency network) sehingga daerah cakupan dapat diperluas. Produksi peralatan pengolah gambar yang baru (cable, satellite, VCR, DVD players, camcorders, video games consoles) adalah dengan menggunakan format digital. Untuk itu supaya pesawat analog masih dapat dipakai diperlukan inverter (setup box) yang dapat merubah signal digital ke analog sehingga dapat dilihat dengan menggunakan TV receiver biasa

Kelebihan Frekuensi TV Digital

Teknologi digital efisien dalam pemanfaatan spektrum frekwensi. Ada satu penyelenggara televisi digital meminta spektrum dalam jumlah yang cukup besar artinya tidak cukup hanya 1 (satu) kanal carrier melainkan lebih. Hal ini disebabkan dalam penyelenggaraannya nanti penyelenggara hanya akan berfungsi sebagai operator penyelenggara jaringan yaitu untuk mentransfer program dari stasiun-stasiun televisi lain yang ada di dunia menjadi satu paket layanan sebagaimana penyelenggaraan televisi kabel berlangganan yang ada saat ini.

Meningkatnya penyelenggaraan televisi dimasa depan dapat diantisipasi dengan suatu terobosan kebijakan dalam pemanfaatan spektrum frekuensi, misalkan penyelenggara televisi digital hanya berfungsi sebagai operator penyelenggara jaringan televisi digital, sedangkan programnya dapat diselenggarakan oleh operator yang khusus menyelenggarakan jasa program televisi digital (operator lain). Dari aspek regulasi akan terdapat ijin penyelenggara jaringan dan ijin penyelenggara jasa sehingga dapat menampung sekian banyak perusahaan baru yang akan bergerak dibidang penyelenggaraan televisi digital. Dengan demikian akan dapat dihindari adanya monopoli penyelenggaraan televisi digital di Indonesia.

Karakteristik Sistem Penyiaran TV Digital Terestrial

Karakteristik Sistem Penyiaran TV Digital yang ada di Indonesia dibagi berdasarkan kualitas penyiaran, manfaat dan keunggulan TV Digital tersebut. TV Digital dalam perkembangannya memiliki karakteristik yang berbeda di tiap wilayah(area) penyiaran. Oleh karena itu, karakteristik sistem penyiaran TV Digital akan sama apabila berada di radius yang sama. Dengan kualitas gambar dan warna yang dihasilkan jauh lebih bagus daripada televisi analog. Desain dan implementasi sistem siaran TV digital terutama ditujukan pada peningkatan kualitas gambar. Terdapat dua aspek yang berbeda dan memerlukan kompromi dalam hal ini. Pada satu sisi, teknologi TV digital memungkinkan pengiriman gambar dengan akurasi dan resolusi sangat tinggi, tetapi pada sisi lain memerlukan tersedianya kanal dengan laju sangat tinggi, mencapai belasan Mbps. Di sisi lain, sistem TV digital juga diharapkan mampu menghasilkan penerimaan gambar yang jernih, stabil, dan tanpa efek bayangan atau gambar ganda, walaupun pesawat penerima berada dalam keadaan bergerak dengan kecepatan tinggi.

Keunggulan TV Digital

Kelebihan signal digital dibanding analog adalah ketahanannya terhadap noise dan kemudahannya untuk diperbaiki (recovery) di penerima dengan kode koreksi error (error correction code). Sinyal digital bisa dioperasikan dengan daya yang rendah (less power). Pada transmisi digital menggunakan less bandwidth (high efficiency bandwidth) karena interference digital channel lebih rendah, sehingga beberapa channel bisa dikemas atau €__dipadatkan€_ dan dihemat. Hal ini menjadi sangat mungkin karena broadcasting TV Digital menggunakan sistem OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing) yang tangguh dalam mengatasi efek lintas jamak (multipath fading). Kemudian keuntungan lainnya adalah bahwa sinyal digital bisa dioperasikan dengan daya yang rendah (less power).

Migrasi dari era analog menuju era digital memiliki konsekuensi tersedianya saluran siaran yang lebih banyak. Tidak ada lagi antrian ataupun penolakan ijin terhadap rencana pendirian televisi nasional maupun lokal karena keterbatasan frekuensi. Televisi digital pun dapat digunakan layaknya browser internet, sehingga sangat integratif fungsinya. Penyiaran TV Digital Terrestrial bisa diterima oleh sistem penerimaan TV Fixed dan penerimaan TV Bergerak. Kebutuhan daya pancar tv digital juga lebih kecil dan ketahanan terhadap interferensi dan kondisi lintasan radio yang berubah-ubah terhadap waktu (seperti yang terjadi jika penerima TV berada di atas mobil yang berjalan cepat), serta penggunaan bandwidth yang lebih efisien.

Transisi ke TV Digital

Pesawat TV analog tidak akan bisa menerima sinyal digital, maka diperlukan pesawat TV digital yang baru agar TV dapat menggunakan alat tambahan baru yang berfungsi merubah sinyal digital menjadi analog. perangkat tambahan berupa Decoder atau setup box (STB) yang saat ini diproduksi oleh PT INTI dan LG Electronics Indonesia ini akan dijual seharga 300-400ribu rupiah per satuannya. Namun saat ini untuk masa uji coba telah tersedia 7000-8000 STB yang diberikan secara gratis kepada masyarakat. Masa uji coba ini akan selesai pada bulan September sebelum perijinan Siaran TV Digital disahkan secara resmi oleh pemerintah.

Pada saat pemerintah memulai siaran digital yang berbasis terrestrial perlu dilakukan proses transisi migrasi dengan meminimalkan resiko kerugian khusus yang dihadapi baik oleh operator TV (Broadcasters) maupun masyarakat. Resiko kerugian khusus yang dimaksud adalah informasi program ataupun perangkat tambahan yang harus dipasang. Bila perubahan diputuskan untuk dilakukan maka perlu dilaksanakan melalui masa €__Simulcast€__, yaitu masa dimana sebelum masyarakat mampu membeli pesawat penerima digital dan pesawat penerima analog yang dimilikinya harus tetap dapat dipakai menerima siaran analog dari pemancar TV yang menyiarkan siaran TV Digital.

Masa transisi diperlukan untuk melindungi puluhan juta pemirsa (masyarakat) yang telah memiliki pesawat penerima TV analog untuk dapat secara perlahan-lahan beralih ke teknologi TV digital dengan tanpa terputus layanan siaran yang ada selama ini. Selain juga melindungi industri dan investasi operator TV analog yang telah ada, dengan memberi kesempatan prioritas bagi operator TV eksisting. Keuntungan memberikan prioritas kepada operator TV eksisting adalah mereka dapat memanfaatkan infrastruktur yang telah dibangun, seperti studio, tower, bangunan, SDM dan lain sebagainya. Selain itu karena infrastruktur TV digital terrestrial relatif jauh lebih mahal dibandingkan dengan infrastruktur TV analog, maka efisiensi dan penggunaan kembali fasilitas dan infrastruktur yang telah dibangun menjadi sangat penting.

Untuk membuka kesempatan bagi pendatang baru di dunia TV siaran digital ini, maka dapat ditempuh pola Kerja Sama Operasi antar penyelenggara TV eksisting dengan calon penyelenggara TV digital. Sehingga di kemudian hari penyelenggara TV digital dapat dibagi menjadi €__network provider€_ dan €__program / content provider€_. Jika kanal TV digital ini diberikan secara sembarangan kepada pendatang baru, selain penyelenggara TV siaran digital terrestrial harus membangun sendiri infrastruktur dari nol, maka kesempatan bagi penyelenggara TV analog eksisting seperti TVRI, 5 TV swasta eksisting dan 5 penyelenggara TV baru untuk berubah menjadi TV digital di kemudian hari akan tertutup karena kanal frekuensinya sudah habis.

Model Bisnis Penyiaran TV Digital Kedepan

Perspektif bentuk penyelenggaraan sistem penyiaran di era digital juga mengalami perubahan yang sangat berarti baik dari pemanfaatan kanal maupun teknologi jasa pelayanannya. Pada pemanfaatan kanal frekuensi akan terjadi efisiensi penggunaan kanal yang sangat berarti. Satu kanal frekuensi yang saat ini hanya bisa diisi oleh satu program saja nantinya akan bisa diisi antara empat sampai enam program sekaligus. Sepuluh program siaran TV-swasta Nasional saat ini yang menduduki juga 10 kanal di UHF (Ultra High Frequency) hanya menduduki 2 atau 3 kanal saja.

Disisi lain pendudukan kanal-kanal saat ini untuk sistem tranmisi analog juga tidak hemat karena antara kanal yang berdekatan harus ada 1 kanal kosong sebagai kanal perantara. Kanal perantara ini tidak ada disistem digital dan kanal frekuensi di sistem digital bisa dimanfaatkan secara berurutan. Bentuk jasa pelayanan sistem penyiaran digital secara blok jaringan juga akan terpisah-pisah yaitu mulai dari penyedia program (content creators) kemudian akan dikirim ke content agregators yang berfungsi sebagai pendistribusi program yang kemudian program itu diubah dalam bentuk format MPEG2 atau MPEG4. Lalu dikirim ke €__MPEG2 multiplexer providers€__ dan kemudian disalurkan ke berbagai pemirsa melalui jaringan pemancar TV Digital oleh €__transport providers€__.

Masing-masing bentuk jasa pelayanan di atas bisa membentuk badan usaha yang disesuaikan dengan kompetensi jasa pelayanan tersebut. Dengan pemisahan ini maka masing-masing bisa lebih terkonsentrasi pada bidang bisnisnya sendiri sehingga masyarakat pemirsa TV akan memperoleh kualitas pelayanan yang lebih beragam dan tentunya lebih baik. Pada sistem penyiaran TV Digital dimungkinkan munculnya jasa-jasa layanan baru seperti informasi-informasi laporan lalu lintas, ramalan cuaca, berita, olahraga, pendidikan, bursa saham, kesehatan dan informasi-informasi layanan masyarakat lainnya. Para penyedia content hanya terkonsentrasi pada isi program saja dan tidak perlu mengurus penyiapan infrastruktur jaringan dan pengoperasiannya. Penyedia content hanya membayar sewa jaringan transmisi saja atau bisa dijual kepada content distributor

Built In TV Digital

Menyongsong datangnya era TV digital di Indonesia, PT. LG Electronics Indonesia (LGEIN) selaku pemain besar dalam industri elektronik baik global maupun nasional menunjukkan komitmen besar dalam mendukung percepatan migrasi menuju era TV Digital di Indonesia. Hal ini diwujudkan dengan secara resmi meluncurkan produk LCD TV terbarunya yang terintegrasi dengan penangkap siaran TV Digital (digital TV tuner). Lahir dalam seri 47LH50YD dan 55LH50YD, LG menjadikan keduanya sebagai Built-In Digital TV Pertama di Indonesia.

€__Selaku pemain besar di industri elektronik, menjadi komitmen kami untuk mendukung segala aktivitas yang bertujuan memberikan nilai lebih pada konsumen. Era TV Digital merupakan jawaban bagi masyarakat Indonesia akan kebutuhan informasi dengan kualitas audio visual yang lebih baik,€_ ujar Win Godfried €__ General Manager Dipslay Factory PT. LG Electronics Indonesia.

Alasannya, karakteristik siaran digital memungkinkan penggunaan jaringan kanal tunggal (single frequency network) tanpa adanya interferensi yaitu gangguan tumbukan sinyal dari siaran radio atau TV lainnya. Hasilnya, keluaran gambar dan suara menjadi lebih stabil, bebas dari efek bayangan (ghost) dan gambar berbintik (noise) sebagaimana yang biasa didapati pada siaran analog.

Indonesia sendiri memasuki gerbang era siaran TV Digital secara resmi sejak 13 Agustus 2008. Hal ini ditandai dengan peluncuran uji coba siaran televisi digital TVRI yang diresmikan oleh Wakil Presiden RI, M. Jusuf Kalla dan didampingi Menkominfo, M. Nuh. Tepat 10 bulan kemudian, pada 20 Mei 2009 bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara resmi me-launching siaran TV digital di Indonesia dengan melibatkan 2 konsorsium, yaitu PT. Konsorsium TV Digital Indonesia (KTDI) dan TVRI-Telkom.

€__Kami melihat keseriusan pemerintah dalam mempersiapkan siaran TV digital di Indonesia. Untuk itu, kami menyiapkan produk pilihan yang siap mendukung percepatan migrasi menuju era TV digital,€_ papar Win Godfried. Pernyataan ini tidaklah berlebihan, melihat apa yang telah dipersiapkan LG dalam produk LCD TV terbarunya ini.

LG telah mempersenjatai keduanya dengan teknologi terkini dengan keberadaan chip khusus. Bertindak sebagai penangkap siaran TV Digital (digital TV tuner), chip ini terintegrasi langsung di dalam set sirkuit LCD TV. Hasilnya, €__Tanpa adanya perantara perangkat lain, kualitas penangkapan sinyal video dan audio lebih sempurna,€_ ujar Win Godfried. Hal ini menurutnya akan berbeda bila konsumen menggunakan dekoder sebagai perangkat perantara penangkap siaran digital. Pasalnya, penggunaan kabel dalam dekoder menghalangi lintas sinyal yang masuk dalam sirkuit TV. Akibatnya, sinyal tak dapat tertangkap 100%.

Namun demikian, digital TV dari LG juga bersifat hibrid, artinya dapat menangkap baik siaran digital maupun analog. Jadi, selama proses migrasi dari sistem analog ke digital, penonton yang tidak dapat menangkap siaran digital tetap dapat menikmati siaran analog seperti biasa. Menambah kenikmatan dalam menyaksikan siaran hiburan di rumah (home entertainment), LG pun tak lupa melengkapi LCD TV nya ini dengan berbagai kemampuan dalam menghasilkan gambar kaya warna dan tampil natural. Hal ini terjadi berkat dukungan contrast ratio 150,000 : 1. Capaian contrast ratio demikian merupakan yang tertinggi pada LCD TV saat ini.

Teknologi TruMotion 200 Hz pun turut mendukung kinerja LCD TV ini. Keberadaan teknologi ini memungkinkan LCD TV mereproduksi gambar hingga mencapai 200 gambar dalam setiap detiknya. €__Kecepatan demikian membuat gambar menjadi terlihat sangat halus. Tanpa adanya efek kedipan (flicker free) yang biasa ditemui pada LCD TV sebelumnya,€_ ujar Win Godfried.

Lebih jauh lagi, LCD TV ini pun mendapat dukungan kecepatan 2ms response time. Kecepatan demikian berguna untuk membuat pergerakan gambar yang biasa ditemui pada film dengan aksi cepat menjadi tampil lebih halus dan tak berbayang. Kelengkapan tambahan yang menyertai kedua LCD TV terbaru LG inipun tak kalah menarik. Lihat saja mulai dari keluasan konektivitas dengan adanya slot HDMI (version 1.3) yang siap mengkoneksikan LCD TV dengan perangkat multimedia lain semacam konsol game, pemutar Blu-Ray dan lainnya. Pun ketersediaan slot USB 2.0 untuk menampilkan berbagai jenis fail.

Lolos Standar Kelayakan Resmi

Tak hanya soal penyediaan teknologi tinggi, kedua produk LG inipun telah memenuhi standar pengujian kelayakan perangkat TV digital yang berlaku di Indonesia saat ini. Pengakuan ini didapat setelah LCD TV terbaru LG ini lolos dari uji teknis yang dilakukan langsung oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sebagai badan resmi yang ditunjuk pemerintah dalam melakukan pengujian setiap perangkat TV digital untuk dapat beredar resmi di pasaran Indonesia.

Dukungan LG pada persiapan Indonesia menyambut era TV digital pun tidak berhenti hanya pada pengenalan produknya. Bahkan, perusahaan yang berbasis di Korea Selatan ini pun menjalin kolaborasi dengan PT. Konsorsium TV Digital Indonesia dan TVRI €__ Telkom untuk mensosialisasikan pengetahuan mengenai siaran TV Digital. €__Kolaborasi ini merupakan kerja bersama kami untuk mempersiapkan masyarakat dan mempercepat proses migrasi menuju siaran TV Digital,€_ ujar Win Godfried pula.(berbagai sumber/heri/foto:3.bp.blogspot.com)

sumber : http://www.rileks.com/lifestyle/technoz/sains-teknologi/24655-tv-digital-apanya-yang-digital.html

News Feed